Tak banyak yang tahu, bahwa meski hanya menutupi sekitar 6–7% daratan bumi, hutan hujan tropis telah menjadi rumah bagi lebih dari 50% spesies darat di dunia sejak lama. Tak hanya itu, sekitar 50% makanan di dunia juga dihasilkan dari hutan hujan tropis, sementara sekitar 40% obat-obatan berasal dari tumbuhan yang tumbuh di dalamnya. Hutan hujan telah lama bertindak sebagai penyerap karbon raksasa yang menyerap miliaran ton karbon dioksida setiap tahunnya untuk membantu menstabilkan iklim global. Menariknya, lebih dari separuh satwa dan tumbuhan di hutan hujan justru hidup di atas pohon, tepatnya di lapisan kanopi yang tingginya mencapai 30 meter atau lebih, bukan di lantai hutan. Di Indonesia, pohon sembukan (emergent trees) bahkan dapat menjulang hingga 45–60 meter.
Di antara hamparan hutan hujan tropis yang tersisa di dunia, Indonesia memegang peran yang sangat penting. Indonesia merupakan pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo, dengan lebih dari 90 juta hektare hutan. Wilayah Papua menyimpan tutupan hutan alam paling luas, sekitar 30 juta hektar, disusul oleh kawasan Kalimantan (Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur) serta Sumatra. Bentang alam ini menjadi rumah bagi ekosistem ikonik dunia, seperti The Great Heart of Borneo di Kalimantan dan Hutan Hujan Dataran Rendah Papua.
Luasnya bentang hutan tersebut berbanding lurus dengan kekayaan hayati yang dikandungnya. Hutan hujan Indonesia menjadi rumah bagi sekitar 10% spesies tumbuhan dunia, sekaligus melindungi 17% dari seluruh spesies burung, termasuk burung cendrawasih yang menjadi ikon kawasan timur nusantara.
Keanekaragaman itu tidak berhenti pada flora dan burung saja. Indonesia juga menempati posisi tertinggi di dunia dengan memiliki sekitar 12% dari total spesies mamalia global. Lebih dari 515 spesies mamalia hidup di sini, menjadikan hutan Indonesia sebagai benteng terakhir bagi berbagai spesies payung (umbrella species) yang kini terancam punah, seperti orangutan, harimau sumatra, gajah sumatra, hingga badak jawa.
Karena itulah, menjaga hutan Indonesia bukan sekadar melindungi kekayaan alam nasional, tetapi juga menjaga keseimbangan bumi secara keseluruhan. Jika hutan ini sampai hilang, dampaknya tidak hanya dirasakan secara lokal. Curah hujan global dapat menurun drastis dan memicu kekeringan di berbagai belahan dunia. Hilangnya proses penguapan (evapotranspirasi) dari pepohonan di hutan nusantara juga berpotensi mengganggu siklus monsun, memperparah fenomena El Niño, hingga mengancam ketahanan pangan jutaan manusia.
Ancaman dan Shifting Drivers (Pergeseran Deforestasi)
Kendati menjadi pemilik hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brazil dan Republik Demokratik Kongo, Indonesia lantas tak bisa berlepas diri dari ancaman deforestasi. Dilansir dari situs resmi Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, angka deforestasi netto Indonesia pada tahun 2024 mencapai 175,4 ribu hektare. Masih datang dari sumber yang sama, angka deforestasi tahun 2024 berasal dari deforestasi bruto sebesar 216,2 ribu hektare dikurangi reforestasi seluas 40,8 ribu hektare. Mayoritas deforestasi terjadi di area hutan sekunder (92,8%). Jika melihat data dari organisasi lingkungan seperti Auriga Nusantara, total deforestasi pada tahun 2024 tercatat lebih tinggi, yakni mencapai 261.575 hektare, di mana 59% di antaranya terjadi di area konsesi perusahaan seperti industri kayu, pertambangan, dan kelapa sawit.
Deforestasi di Indonesia selama ini didominasi oleh pembukaan hutan oleh korporasi swasta untuk komoditas ekspor berskala besar, seperti kelapa sawit dan bubur kertas. Namun, dalam beberapa tahun terakhir mulai terjadi pergeseran penyebab deforestasi (shifting drivers of deforestation). Alih fungsi hutan kini juga dilakukan atas nama kepentingan strategis nasional, mulai dari pembangunan proyek pangan skala besar (food estate), pembukaan lahan sawah baru, hingga pembangunan infrastruktur energi terbarukan yang tetap membutuhkan pembukaan kawasan hutan.
Pergeseran ini memunculkan sebuah paradoks dalam upaya transisi hijau. Di satu sisi, dunia berupaya menekan emisi karbon melalui pembangunan energi bersih dan penguatan ketahanan pangan. Namun di sisi lain, sebagian proyek tersebut justru mengorbankan hutan alam primer yang menjadi penyerap karbon sekaligus habitat bagi ribuan spesies. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah bijak mengorbankan biodiversitas demi mengejar target penurunan emisi? Selain dampak ekologis, berbagai proyek tersebut juga kerap memicu konflik agraria serta mengancam ruang hidup dan kedaulatan masyarakat adat.
Paradoks tersebut juga terlihat dalam praktik pengelolaan hutan untuk kepentingan industri. Salah satunya adalah konversi hutan alam primer menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang ditanami spesies monokultur, seperti akasia atau eukaliptus, untuk memenuhi kebutuhan industri pulp dan kertas. Meski kawasan tersebut nantinya kembali ditumbuhi pepohonan sehingga tidak selalu dihitung sebagai deforestasi permanen, fungsi ekologinya sangat berbeda dengan hutan alam. Hutan monokultur memiliki keanekaragaman hayati yang jauh lebih rendah serta kemampuan menyimpan karbon yang tidak sebanding dengan hutan alam primer yang digantikannya.
Kebijakan dan Komitmen Indonesia’s FOLU Net Sink 2030
Pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan penundaan pemberian izin baru (moratorium) untuk pembukaan hutan alam primer dan lahan gambut. Dampaknya signifikan, area seluas lebih dari 66 juta hektare (setara dengan luas negara Prancis) berhasil dilindungi dari konsesi perkebunan kelapa sawit baru maupun pembalakan komersial.
Hasilnya, angka net-deforestasi di Indonesia berhasil menurun drastis hingga lebih dari 70% berkat pengetatan regulasi ini dan penurunan intensitas kebakaran hutan. Juga tidak lepas dari peran krusial Masyarakat Adat dan komunitas lokal yang selama berabad-abad menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan adat mereka.
Penurunan deforestasi ini sejalan dengan agenda Indonesia’s FOLU Net Sink (Forestry and Other Land Uses atau Sektor Kehutanan dan Penggunaan Lahan Lainnya). Dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC) Indonesia, dibebani tanggung jawab besar untuk menurunkan emisi nasional. Kita sedang berusaha mengubah status dari “berutang emisi” menjadi “surplus menabung karbon”.
Target kondisi Net Sink ini perlu tercapai sepenuhnya pada tahun 2030 melalui agenda Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, di mana tingkat penyerapan karbon dari sektor kehutanan dan lahan ditargetkan mencapai emisi sebesar minus 140 juta ton CO₂e (karbon dioksida ekuivalen).
Komitmen penyelamatan hutan di dalam negeri ini sejalan dengan dorongan dari ranah global. Salah satu bentuk tekanan datang melalui implementasi European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang mewajibkan produk yang masuk ke pasar Eropa lolos uji lacak (traceability) ketat untuk memastikan komoditas tersebut tidak berasal dari lahan hasil deforestasi. Regulasi ini memaksa perusahaan global berbondong-bondong memasang label Deforestation-Free.
Kendati regulasi EUDR ini berdampak positif bagi iklim global, kebijakan ini juga membawa tantangan besar di tingkat tapak, terutama bagi para petani kecil (smallholders) mandiri di Indonesia yang kerap kesulitan menghadapi beban birokrasi dan biaya sertifikasi pelacakan lahan sehingga berisiko tersisih dari pasar global.
Hutan Hujan Menjaga Energi Tetap Mengalir
Hilangnya hutan bukan hanya mengancam satwa liar atau memperburuk perubahan iklim. Berkurangnya tutupan hutan juga mengganggu siklus air yang menjaga aliran sungai tetap stabil sepanjang tahun. Akibatnya, masyarakat yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga air, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), berisiko mengalami penurunan pasokan listrik saat debit air terus menyusut.
Selama ini, hutan hujan sering dikenal sebagai paru-paru dunia. Namun, perannya ternyata jauh lebih luas, termasuk menjaga keberlangsungan energi bersih. Tutupan hutan yang sehat berfungsi sebagai “menara air alami” (natural water tower) yang menyerap air hujan, menyimpannya di dalam tanah, lalu melepaskannya secara perlahan ke sungai sepanjang tahun. Proses ini menjaga debit sungai tetap stabil, bahkan ketika musim kemarau tiba. Stabilnya aliran sungai menjadi faktor penting bagi pembangkit listrik tenaga air, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang banyak dimanfaatkan masyarakat di daerah terpencil Indonesia.
Ketika hutan ditebang, kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air ikut menurun. Akibatnya, aliran sungai menjadi tidak stabil: banjir lebih mudah terjadi saat musim hujan, sementara debit air menurun drastis saat musim kemarau. Kondisi ini dapat mengurangi kapasitas pembangkitan listrik, bahkan menyebabkan PLTMH berhenti beroperasi karena pasokan air tidak lagi mencukupi. Dengan kata lain, menjaga hutan hujan bukan hanya tentang melestarikan satwa atau menyerap karbon, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap energi bersih yang andal.
Deforestasi ternyata tidak hanya terjadi jauh di dalam kawasan hutan, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan apa yang kita konsumsi setiap hari. Berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari minyak goreng, cokelat, kertas, hingga kosmetik, dapat menjadi bagian dari rantai pasok yang mendorong deforestasi apabila diproduksi tanpa memperhatikan prinsip keberlanjutan.
Karena itulah, setiap keputusan belanja yang kita ambil sebenarnya memiliki dampak yang lebih besar daripada yang kita bayangkan. Sebagai konsumen, kita memiliki kekuatan untuk mendorong praktik produksi yang lebih bertanggung jawab melalui pilihan produk yang kita beli. Salah satu langkah sederhana adalah meluangkan waktu sejenak saat berbelanja untuk memilih produk yang memiliki sertifikasi keberlanjutan, seperti logo katak hijau Rainforest Alliance, FSC untuk produk berbasis kayu atau kertas, serta RSPO atau ISPO untuk produk berbahan baku minyak sawit.
Namun, menjadi konsumen bijak tidak berhenti pada memilih produk yang tepat. Mengurangi konsumsi berlebihan dan meminimalkan limbah makanan (food waste) juga merupakan bentuk kontribusi nyata. Dengan menekan sampah makanan, kita turut menghargai setiap jengkal lahan yang telah digunakan untuk menghasilkan pangan sekaligus mengurangi tekanan terhadap pembukaan lahan baru.
Di sisi lain, dukungan publik juga menjadi pendorong penting bagi perubahan di tingkat industri. Kita dapat memberikan sinyal kepada perusahaan bahwa praktik bisnis yang bertanggung jawab adalah hal yang dihargai, dengan memprioritaskan merek-merek yang transparan dan jujur mengenai asal-usul bahan baku serta rantai pasok mereka. Semakin banyak konsumen yang membuat pilihan seperti ini, semakin besar pula dorongan bagi dunia usaha untuk menjaga hutan sebagai bagian dari rantai produksi yang berkelanjutan.
Dengan memprioritaskan produk yang bertanggung jawab dan mengurangi konsumsi berlebihan, kita tidak hanya membantu melindungi habitat satwa liar atau menekan emisi karbon. Kita juga ikut menjaga fungsi hutan sebagai penyangga siklus air yang menopang pertanian, menyediakan air bersih, hingga memastikan pembangkit listrik tenaga air seperti PLTMH tetap memiliki pasokan air yang stabil. Pada akhirnya, setiap keputusan kecil yang kita ambil di rumah dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan hutan dan kehidupan banyak orang.
Sekarang, mari tanyakan ke diri sendiri. Apa satu perubahan kecil yang bisa kita lakukan hari ini untuk menjaga bumi tetap hijau? Langkah sederhana seperti memilih produk berkelanjutan atau menyebarkan kesadaran ini kepada orang-orang di sekitar bisa jadi awal yang luar biasa.
Bagikan artikel ini dan ajak teman-teman yang lain untuk ikut menantang diri mereka sendiri. Mari bersama-sama kita menjadi generasi yang menyelamatkan, bukan melenyapkan hutan hujan Indonesia!
Penulis: Lidwina Hana
Editor: Suti Sri Hardiyanti














