Tahukah kamu bahwa emisi karbon adalah penyumbang terbesar dalam perubahan iklim global? Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, transisi menuju Net Zero Emission menjadi salah satu solusi utama demi keberlanjutan bumi. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia menargetkan pengurangan emisi hingga 31,89% dengan usaha sendiri dan 43,2% dengan dukungan internasional pada tahun 2030. Untuk mencapainya, dibutuhkan strategi, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi teknologi yang tepat guna.
Podcast Pojok Hijau episode ke-5 kali ini membahas secara mendalam tentang strategi pengurangan emisi karbon sebagai langkah penting menuju target Net Zero Emission (NZE) Indonesia. Dalam diskusi ini, Mira Dwi Pangesti, COO dari Satuplatform membagikan pandangannya mengenai peran teknologi, regulasi, dan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung transisi menuju masa depan rendah karbon.
Dengan gaya ngobrol yang santai tapi padat informasi, episode ini cocok untuk kamu yang peduli pada keberlanjutan, berkecimpung di sektor energi, atau ingin tahu lebih dalam soal tren dan tantangan pengurangan emisi karbon di Indonesia.
Insight Podcast
Mengapa isu Net Zero Emission semakin penting dibahas?
Menurut Mira, isu Net Zero Emission saat ini menjadi perhatian global karena dampak perubahan iklim sudah semakin nyata dirasakan oleh masyarakat. Perusahaan-perusahaan besar mulai dituntut untuk mengurangi emisi karbon mereka, baik karena dorongan regulasi pemerintah maupun tekanan dari investor dan pasar internasional.
Selain itu, pemerintah Indonesia melalui berbagai kementerian mulai membuka jalan menuju implementasi perdagangan karbon (carbon trading) serta mendorong perusahaan untuk mulai menghitung dan mengurangi emisi mereka. Hal ini membuat isu karbon tidak lagi sekadar wacana lingkungan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam strategi bisnis dan keberlanjutan perusahaan.
Mengapa perusahaan perlu menghitung emisi karbon terlebih dahulu?
Salah satu prinsip utama yang ditekankan dalam diskusi ini adalah:
“You cannot manage what you cannot measure.”
Menurut Mira, perusahaan tidak bisa mengurangi emisi apabila mereka sendiri belum mengetahui berapa besar emisi yang dihasilkan. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan inventarisasi dan penghitungan emisi karbon.
Melalui proses ini, perusahaan dapat mengetahui:
- sumber emisi terbesar,
- pola peningkatan emisi,
- serta strategi pengurangan yang paling efektif.
Satuplatform hadir sebagai platform yang menyediakan solusi end-to-end untuk membantu perusahaan melakukan penghitungan, monitoring, hingga pelaporan emisi karbon secara lebih sistematis dan transparan.
Bagaimana proses monitoring dan pelaporan emisi dilakukan?
Mira menjelaskan bahwa proses monitoring dimulai dengan inventarisasi sumber emisi perusahaan, seperti:
- penggunaan listrik,
- konsumsi bahan bakar,
- kendaraan operasional,
- hingga aktivitas produksi.
Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam platform sehingga emisi dapat dihitung secara otomatis dan dipantau secara real-time. Dengan sistem ini, perusahaan dapat melihat:
- tren emisi per bulan,
- performa pengurangan emisi,
- serta periode dengan emisi tertinggi.
Menurut Mira, monitoring bulanan sangat penting karena perusahaan dapat melakukan evaluasi lebih cepat sebelum memasuki periode pelaporan tahunan.
Mengapa monitoring emisi secara berkala penting?
Dalam diskusi dijelaskan bahwa banyak perusahaan sebelumnya hanya melakukan penghitungan emisi setahun sekali. Padahal, metode tersebut membuat perusahaan kesulitan mengevaluasi strategi pengurangan emisi secara cepat.
Dengan monitoring bulanan:
- perusahaan dapat mengetahui tren peningkatan emisi lebih awal,
- melakukan antisipasi sebelum emisi meningkat terlalu besar,
- dan menyusun strategi pengurangan emisi secara bertahap.
Hal ini membantu perusahaan agar tidak “terkejut” saat laporan tahunan menunjukkan angka emisi yang tinggi.
Apa saja inovasi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang mulai diterapkan industri?
Menurut Mira, banyak perusahaan mulai melakukan transisi bertahap dari energi fosil menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Beberapa contoh implementasi yang dibahas dalam podcast antara lain:
- penggunaan panel surya (solar panel) untuk operasional,
- penggunaan bahan bakar B35,
- hingga pemanfaatan biomassa dari limbah organik dan limbah perkebunan sebagai substitusi batu bara pada boiler industri.
Walaupun belum sepenuhnya menggantikan energi fosil, langkah-langkah ini dinilai penting sebagai bentuk awal komitmen perusahaan dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis karbon tinggi.
Apa tantangan terbesar implementasi teknologi rendah karbon?
Tantangan terbesar menurut Mira adalah biaya investasi awal yang cukup besar.
Implementasi teknologi seperti:
- solar panel,
- biomassa,
- atau teknologi energi terbarukan lainnya,
memerlukan investasi yang tidak sedikit di tahap awal. Sementara manfaat ekonominya baru dirasakan dalam jangka menengah atau panjang, misalnya melalui pengurangan biaya listrik atau bahan bakar.
Selain itu, tidak semua teknologi cocok diterapkan di setiap perusahaan. Karena itu, diperlukan:
- studi kelayakan (feasibility study),
- analisis lokasi,
- dan evaluasi kebutuhan operasional,
agar teknologi yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi masing-masing industri.
Seberapa besar dampak pengurangan emisi terhadap lingkungan?
Mira menjelaskan bahwa dampak pengurangan emisi sebenarnya sangat nyata, terutama jika dilakukan oleh sektor-sektor dengan emisi besar seperti:
- manufaktur,
- transportasi,
- pertambangan,
- dan energi.
Ia menyoroti berbagai fenomena yang kini semakin sering dirasakan masyarakat, seperti:
- suhu udara yang semakin panas,
- perubahan pola musim,
- banjir saat musim kemarau,
- hingga kekeringan di musim hujan.
Fenomena tersebut merupakan salah satu dampak dari pemanasan global yang dipengaruhi oleh peningkatan emisi karbon.
Selain sektor industri, Mira juga menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan mulai menggunakan transportasi publik untuk menekan emisi harian.
Apakah pengurangan emisi juga membuka peluang bisnis baru?
Ya. Salah satu poin menarik dalam diskusi adalah berkembangnya peluang ekonomi melalui mekanisme perdagangan karbon (carbon trading).
Perusahaan yang berhasil menjalankan proyek pengurangan emisi dapat:
- mendaftarkan proyeknya melalui sistem pemerintah,
- memperoleh kredit karbon,
- dan menjual kredit tersebut melalui bursa karbon seperti IDX Carbon.
Kredit karbon ini nantinya dapat dibeli oleh perusahaan lain yang memiliki emisi melebihi batas tertentu dan perlu melakukan kompensasi emisi.
Karena itu, investasi pada proyek rendah karbon tidak hanya dipandang sebagai biaya tambahan, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan baru di masa depan.
Bagaimana kondisi regulasi emisi di Indonesia saat ini?
Menurut Mira, regulasi emisi di Indonesia masih berkembang dan belum sepenuhnya ketat untuk seluruh sektor industri.
Saat ini:
- sektor pembangkit listrik tenaga batu bara sudah memiliki batas emisi,
- sementara banyak sektor lain masih bersifat sukarela (voluntary).
Akibatnya, tingkat kesadaran perusahaan masih relatif rendah karena belum ada sanksi atau kewajiban yang benar-benar kuat bagi seluruh industri.
Namun, dorongan kuat justru datang dari investor luar negeri, khususnya dari Europe, yang mulai menjadikan aspek keberlanjutan sebagai syarat utama pendanaan dan investasi.
Mengapa kolaborasi lintas sektor sangat penting?
Mira menegaskan bahwa target Net Zero Emission tidak bisa dicapai oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara:
- pemerintah,
- perusahaan,
- komunitas,
- investor,
- startup teknologi,
- dan masyarakat.
Pemerintah berperan dalam:
- memperkuat regulasi,
- membangun ekosistem transisi energi,
- serta menyediakan forum dan kebijakan pendukung.
Sementara perusahaan dan masyarakat perlu mulai meningkatkan kesadaran serta mengambil langkah nyata untuk mengurangi emisi masing-masing.
Bagaimana peran Satuplatform membantu perusahaan menuju dekarbonisasi?
Dalam podcast dijelaskan bahwa Satuplatform membantu perusahaan melalui pendekatan end-to-end, mulai dari:
- inventarisasi emisi,
- penghitungan karbon,
- penyusunan laporan,
- hingga strategi pengurangan emisi jangka panjang.
Setelah data emisi dianalisis, perusahaan dapat menyusun:
- target pengurangan emisi tahunan,
- strategi dekarbonisasi,
- dan roadmap menuju keberlanjutan.
Mira menyebut proses ini sebagai:
“decarbonization journey”
di mana perusahaan secara bertahap menurunkan emisinya dari tahun ke tahun melalui target yang terukur.
Mengapa Net Zero Emission menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan?
Di akhir diskusi, Mira menekankan bahwa Net Zero Emission bukan lagi sekadar tujuan jangka panjang, tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlanjutan bumi bagi generasi mendatang.
Langkah-langkah yang dilakukan hari ini akan menentukan kondisi lingkungan di masa depan. Karena itu, setiap pihak diharapkan mulai mengambil peran, baik melalui:
- pengurangan emisi operasional,
- penggunaan energi terbarukan,
- perubahan perilaku sehari-hari,
- maupun peningkatan kesadaran terhadap keberlanjutan.
Menurut Mira, perubahan besar menuju dunia yang lebih hijau hanya dapat tercapai melalui kolaborasi dan komitmen bersama.

