Indonesia masih menghadapi tantangan besar soal pengelolaan sampah. Tapi di tengah krisis ini, muncul satu pertanyaan penting: Bisakah sampah jadi sumber energi?

Di Podcast Pojok Hijau episode ke-6 kali ini, kita bakal ngobrol bareng Hatta Gutama, Environmental Specialist PT SUCOFINDO tentang realita persoalan sampah di Indonesia, potensi Waste to Energy (WtE), dan kenapa solusi ini nggak bisa dilihat cuma dari sisi teknologi aja. Karena faktanya, urusan sampah itu bukan sekadar “buang dan selesai”, tapi soal lingkungan, kebijakan, ekonomi sirkular, dan masa depan energi.

Insight Podcast

Apa itu Waste to Energy (WTE)?

Waste to Energy (WTE) merupakan teknologi pengolahan sampah yang mengubah sampah menjadi energi, terutama listrik, melalui proses termal atau pembakaran. Dalam podcast Pojok Hijau Episode 6, Hatta menjelaskan bahwa konsep utama WTE sebenarnya mirip dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), tetapi bahan bakarnya diganti dari batu bara menjadi sampah. Panas hasil pembakaran digunakan untuk menghasilkan uap yang kemudian menggerakkan turbin pembangkit listrik.

Teknologi ini mulai banyak dibicarakan di Indonesia karena meningkatnya persoalan sampah dan keterbatasan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di berbagai daerah.


Mengapa masalah sampah di Indonesia semakin kompleks?

Menurut Hatta, persoalan sampah di Indonesia mengalami perubahan besar seiring perkembangan industri dan pola konsumsi masyarakat. Pada masa lalu, masyarakat lebih banyak menggunakan material alami seperti daun pisang atau daun jati sebagai kemasan sehingga sampah lebih mudah terurai secara alami. Namun, setelah berkembangnya plastik dan berbagai jenis packaging modern, jenis sampah menjadi lebih sulit terurai dan bertahan lebih lama di lingkungan.

Akibatnya, sistem pengelolaan sampah konvensional yang hanya mengandalkan pembuangan ke TPA tidak lagi mampu mengimbangi laju produksi sampah masyarakat. Sampah terus menumpuk karena material modern membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai secara alami.


Bagaimana konsep dasar Waste to Energy bekerja?

Dalam sistem WTE, sampah diperlakukan sebagai sumber energi atau bahan bakar. Sampah yang memiliki karakteristik tertentu akan dibakar di dalam sistem tertutup dengan temperatur tinggi untuk menghasilkan panas. Panas tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

Namun, tidak semua sampah dapat langsung digunakan dalam proses pembakaran. Sistem WTE membutuhkan pengelolaan dan klasifikasi sampah agar proses pembakaran berjalan optimal serta tidak menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya.


Jenis sampah apa saja yang bisa digunakan dalam WTE?

Hatta menjelaskan bahwa secara umum sampah dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu:

1. Combustible (dapat dibakar)

Jenis sampah ini meliputi:

  • plastik,
  • kertas,
  • kardus,
  • beberapa jenis sampah organik,
  • dan material lain yang memiliki nilai kalor.

2. Non-combustible (tidak dapat dibakar)

Contohnya:

  • logam,
  • kaca,
  • limbah B3,
  • limbah medis,
  • dan material tertentu lainnya.

Salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah kondisi sampah yang masih tercampur. Sampah dari rumah tangga umumnya belum dipilah secara optimal sehingga material yang seharusnya tidak masuk ke proses pembakaran masih sering bercampur dengan sampah combustible.


Mengapa pemilahan sampah menjadi tantangan besar di Indonesia?

Menurut diskusi dalam podcast, masalah utama pengelolaan sampah di Indonesia bukan hanya teknologi, tetapi juga sistem dan perilaku masyarakat. Walaupun sebagian masyarakat sudah mulai memilah sampah, proses pengangkutan sering kali masih mencampurkan kembali sampah tersebut karena keterbatasan sistem pengelolaan.

Selain itu, pengelolaan sampah memerlukan biaya besar pada setiap tahapan, mulai dari:

  • pengangkutan,
  • pemilahan,
  • pengolahan,
  • hingga pembuangan akhir.

Karena itu, pengelolaan sampah yang baik membutuhkan dukungan sistem yang terintegrasi, bukan hanya kesadaran individu.


Apakah karakteristik sampah setiap daerah berbeda?

Ya. Hatta menjelaskan bahwa karakteristik sampah sangat dipengaruhi oleh:

  • tingkat pendapatan masyarakat,
  • budaya,
  • pola konsumsi,
  • dan kebiasaan sehari-hari.

Daerah dengan pendapatan lebih tinggi biasanya menghasilkan lebih banyak sampah packaging seperti kardus dan plastik yang relatif lebih mudah dibakar. Sementara daerah dengan pendapatan lebih rendah cenderung menghasilkan lebih banyak sampah organik.

Hal ini menyebabkan komposisi sampah antar daerah di Indonesia sangat heterogen dan menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan WTE.


Berapa banyak sampah yang dibutuhkan untuk menjalankan PLTSa?

PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) membutuhkan pasokan sampah yang stabil agar dapat beroperasi secara optimal. Dalam podcast dijelaskan bahwa kebutuhan umumnya berada di sekitar ± 1.000 ton sampah per hari.

Jumlah ini bahkan bisa berasal dari gabungan beberapa kota atau kabupaten sekaligus. Karena itu, kerja sama antar daerah menjadi penting untuk menjaga kesinambungan pasokan sampah.

Selain jumlah, kualitas dan komposisi sampah juga sangat penting karena akan memengaruhi performa pembakaran dan produksi energi.


Mengapa suhu pembakaran sangat penting dalam WTE?

Salah satu aspek paling krusial dalam WTE adalah menjaga suhu pembakaran tetap tinggi dan stabil. Menurut Hatta, suhu pembakaran perlu dijaga di atas sekitar 600°C untuk mencegah terbentuknya emisi berbahaya seperti dioksin dan furan.

Karena itu:

  • sistem pembakaran dilakukan secara tertutup,
  • suplai sampah harus stabil,
  • dan kualitas pembakaran harus terus dipantau.

Hal ini sangat berbeda dengan praktik pembakaran sampah terbuka yang masih sering dilakukan masyarakat dan berpotensi menghasilkan emisi berbahaya tanpa kontrol.


Apa dampak lingkungan dari Waste to Energy?

Walaupun bertujuan mengurangi masalah sampah, WTE tetap memiliki potensi dampak lingkungan yang harus dikendalikan dengan baik.

Beberapa by-product utama dari proses WTE antara lain:

Fly Ash dan Bottom Ash

Merupakan sisa hasil pembakaran yang volumenya jauh lebih kecil dibanding sampah awal. Pengurangan volume sampah bahkan dapat mencapai 80–90%.

Lindi (Leachate)

Merupakan cairan hasil pembusukan sampah yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Emisi Udara

Emisi hasil pembakaran harus dikontrol secara ketat agar tidak membahayakan masyarakat sekitar.

Menurut Hatta, secara teknis seluruh dampak tersebut sebenarnya dapat dikelola selama fasilitas pengendalian pencemarannya memadai dan sistem operasional dijalankan dengan baik.


Apakah Waste to Energy sudah diterapkan di Indonesia?

Dalam podcast disebutkan bahwa Indonesia memiliki rencana pengembangan sekitar 33 proyek WTE/PLTSa. Namun, saat ini beberapa lokasi yang disebut sedang berjalan atau dikembangkan antara lain:

  • Bali,
  • Yogyakarta,
  • Bekasi,
  • dan Bogor.

Pengembangan ini diprioritaskan pada daerah yang mengalami kondisi darurat sampah dan TPA yang sudah overcapacity.


Berapa listrik yang dapat dihasilkan dari PLTSa?

Secara umum, PLTSa dengan kapasitas sekitar 1.000 ton sampah per hari direncanakan mampu menghasilkan listrik sekitar:

±15 MW

Namun, jumlah tersebut tetap bergantung pada:

  • kualitas sampah,
  • kadar air,
  • nilai kalor,
  • dan kestabilan pasokan.

Listrik yang dihasilkan nantinya akan disalurkan ke jaringan PLN seperti pembangkit listrik lainnya.


Apakah PLTSa menguntungkan secara ekonomi?

Menurut Hatta, aspek ekonomi WTE masih menjadi tantangan besar. Walaupun menghasilkan listrik, biaya pengelolaan lingkungannya juga sangat tinggi, termasuk:

  • pengendalian emisi,
  • pengolahan fly ash dan bottom ash,
  • pengolahan lindi,
  • serta biaya pengangkutan sampah.

Karena itu, diskusi mengenai WTE tidak hanya soal produksi energi, tetapi juga tentang:

  • pengurangan volume sampah,
  • perlindungan lingkungan,
  • dan keberlanjutan sistem pengelolaan sampah jangka panjang.

Negara mana yang berhasil menerapkan WTE?

Beberapa negara yang disebut berhasil mengembangkan WTE antara lain:

  • Japan
  • Singapore

Negara-negara tersebut dinilai berhasil karena:

  • sistem pengelolaan sampahnya matang,
  • masyarakat disiplin memilah sampah,
  • teknologi pengolahan sudah maju,
  • dan desain produk sejak awal sudah mempertimbangkan minimasi sampah.

Mereka juga mulai menerapkan konsep:

  • eco-packaging,
  • refill system,
  • dan circular economy.

Mengapa kolaborasi berbagai pihak sangat penting?

Menurut Hatta, pengembangan WTE tidak bisa berjalan hanya dengan satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara:

  • masyarakat,
  • pemerintah,
  • industri,
  • pengelola sampah,
  • dan sektor energi.

Pemerintah berperan melalui kebijakan, seperti pengurangan plastik sekali pakai. Industri berperan melalui desain produk dan packaging yang lebih ramah lingkungan. Sementara masyarakat berperan melalui perubahan perilaku dan kesadaran pengelolaan sampah.


Seberapa optimis masa depan Waste to Energy di Indonesia?

Di akhir diskusi, Hatta menyampaikan optimisme terhadap pengembangan WTE di Indonesia. Menurutnya, produksi sampah akan terus ada sehingga solusi pengelolaan sampah juga harus terus berkembang.

WTE dipandang sebagai salah satu solusi transisi penting untuk:

  • mengurangi ketergantungan pada TPA,
  • mengurangi volume sampah,
  • sekaligus menghasilkan energi.

Namun, keberhasilannya tetap sangat bergantung pada:

  • perbaikan sistem pengelolaan sampah di hulu,
  • kesiapan teknologi,
  • pengawasan lingkungan,
  • dan kesadaran seluruh masyarakat.
Tagged:
FOLLOW AND SUBSCRIBE
Episodes

Masa Depan Waste to Energy di Indonesia | Ep-6

oleh Bincang Energi time to read: 5 min
0