Isu emisi gas rumah kaca (GRK) menjadi isu krusial yang sedang dihadapi di seluruh dunia. Data menunjukkan pada tahun 2020, negara G20 menyumbang sekitar 84% GRK di dunia (Budianto, 2022). Hal ini disebabkan semakin banyaknya aktivitas dalam penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan, sehingga menghasilkan emisi karbon yang meningkat, tak terkecuali di Indonesia. Dewasa ini pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menekan GRK dengan perolehan hasil yang terus meningkat, di tahun 2020 berhasil menurunkan emisi sebanyak 64,4 juta ton, kemudian di tahun 2021 sebanyak 70 juta ton, dan terakhir di tahun 2022 sebanyak 91.5 ton dimana hasil dari 3 tahun tersebut telah melampaui target yang ditetapkan (Humas EBTKE, 2023). Diharapkan di tahun berikutnya terus mengalami peningkatan dalam menekan emisi karbon yang nantinya akan mensukseskan net zero emission di tahun 2060.

Di Indonesia sendiri GRK paling banyak disumbang oleh sektor pembangkit listrik yang kemudian disusul oleh sektor transportasi. Walaupun sektor transportasi berada diurutan kedua, namun bukan berarti sektor transportasi dikesampingkan. Sebab transportasi di Indonesia masih banyak yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yang akan berdampak pada emisi gas buang. Selain itu impor BBM menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan, mengingat biaya yang terbilang mahal. Impor BBM di tahun 2022 sebesar US$ 24.07 miliar atau meningkat 17% dibanding tahun 2021 (Asmarini, 2023). Tentunya impor di tahun selanjutnya akan lebih besar jika masih mengandalkan BBM sebagai bahan penggerak utama.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah ialah dengan menggencarkan program “konversi sepeda motor BBM ke sepeda motor listrik”. Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) menjadi terobosan untuk mengatasi permasalahan yang telah disebutkan. Program konversi sepeda motor BBM ke sepeda motor listrik merupakan bantuan kepada masyarakat untuk dapat berkontribusi dalam menurunkan emisi GRK dan menjaga ketahanan energi nasional. Dasar hukum program konversi ini termaktub dalam Peraturan  Menteri Perhubungan No 65 Tahun 2020 mengenai konversi sepeda motor, dan Peraturan Menteri ESDM No 1 Tahun 2023 tentang infrastruktur pengisian listrik.

Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) menargetkan program konversi di tahun ini sebanyak 50.000 unit dan tahun 2024 sebanyak 150.000 unit. Namun yang mendaftar baru sekitar 4500 unit, artinya gap masih terlalu besar jika dibandingkan dengan target tahun ini (Anshori, 2023).

Lantas apakah program konversi motor BBM menjadi listrik ini tepat? Berikut pertimbangan sederhananya.

Keunggulan Program

Dari segi ekonomi, pemerintah diuntungkan karena tidak perlu impor BBM dalam jumlah yang banyak melainkan hanya perlu menyediakan tempat pengisian listrik. Selain itu, bagi masyarakat yang mau mendaftar program ini akan mendapatkan insentif dari pemerintah sebesar 7 juta rupiah per unit untuk melakukan konversi sepeda motor BBM menjadi sepeda motor listrik sekaligus dapat menghemat uang pribadi yang semula dialokasikan untuk membeli BBM.

Energi listrik yang melimpah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa-Bali menjadi keuntungan dalam penyediaan tempat charging baterai motor listrik. Selain itu juga sejalan dengan mempercepat transisi energi di sektor transportasi yang menggunakan energi listrik. Oleh karena menggunakan energi listrik, emisi karbon tentunya dapat dikurangi secara signifikan. Dampak lainnya daerah tersebut akan mengurangi polusi sehingga masyarakat dapat hidup lebih sehat.

Masyarakat juga dapat menyemarakkan program KBLBB tanpa harus membeli sepeda motor listrik baru, artinya dengan sepeda motor yang sudah ada dapat dilakukan konversi ke sepeda motor listrik. Perlu diketahui, pemerintah juga memberikan subsidi untuk pembelian sepeda motor listrik baru sebesar 7 juta rupiah per KTP per 1 unit. Pertanyaannya adalah apakah lebih baik membeli sepeda motor listrik baru, biar sekalian saja? Secara hitung-hitungan bisa jadi motor listrik baru lebih murah dibandingkan biaya konversi motor, akan tetapi program konversi motor terdapat beberapa keunggulan. Diantara keunggulan tersebut ialah program konversi motor mendapatkan subsidi per unit (bukan per 1 KTP) yang dimana pemerintah masih membuka hingga tahun 2024, adanya garansi proses konversi selama 2 tahun, garansi baterai 3 tahun, garansi control unit 2 tahun.

Kelemahan Program

Dari segi persyaratan tidak semua sepeda motor bisa dikonversi menjadi sepeda motor listrik. Sepeda motor listrik yang diperbolehkan melakukan konversi dibatasi pada 100-150 CC. Pertimbangan rentang 100-150 CC tersebut yaitu sepeda motor yang sering digunakan oleh masyarakat. Selain itu bagi yang sudah mendaftar juga harus menunggu ketersediaan komponen seperti baterai yang harus mengimpor terlebih dahulu. Oleh karenanya dibutuhkan masa tunggu dalam menyelesaikan program konversi sepeda motor listrik.

Sebagaimana yang diketahui bahwa jarak tempuh dari sepeda motor listrik lebih rendah dibandingkan kemampuan sepeda motor dengan BBM. Hal ini dikarenakan sumber listrik berasal dari baterai yang berkisar untuk menempuh 40-60 km dalam podcast The Purnomo Yusgiantoro Center. Sehingga dalam segi jarak tempuh sepeda motor BBM masih lebih banyak diminati.

Tantangan Program

Tantangan program konversi sepeda motor listrik yaitu keterbatasan jumlah bengkel yang tersedia untuk melakukan konversi. Saat ini baru terdapat 24 bengkel yang bisa melakukan konversi, dari 24 bengkel tersebut baru ada 7 bengkel yang telah tersertifikasi oleh Kementerian Perhubungan. Dari 7 bengkel yang tersertifikasi, 6 bengkel berada di Pulau Jawa dan sisanya berada di Pulau Bali. Artinya di luar Pulau Jawa dan Bali masih terkendala oleh jumlah bengkel yang mampu melakukan konversi sesuai standar Kementerian Perhubungan.

Masayarakat juga masih menimbang untuk melakukan konversi sepeda motor listrik, alasannya BBM masih terjangkau untuk bisa dibeli selain itu tempat pengisian BBM dapat dengan mudah ditemui.

Peluang Program

Trend positif sepeda motor listrik akan terus meningkat kedepannya. Peraturan yang masih dalam tahap uji coba ialah mengenai tilang uji emisi. Peraturan ini akan dilaksanakan di Jakarta dalam periode waktu tertentu, namun bukan tidak mungkin peraturan ini akan berlangsung terus kedepannya. Dengan adanya tilang tersebut akan menyadarkan pengguna untuk memperhatikan emisi kendaraan yang digunakan.

Dari sisi lapangan pekerjaan, akan menambah potensi usaha baru seperti bengkel konversi. Dengan semakin banyaknya pengguna sepeda motor listrik maka kebutuhan terhadap bengkel untuk melakukan konversi maupun service juga akan meningkat. Di tambah lagi, bengkel yang telah tersertifikasi boleh membuka cabang untuk membantu proses konversi. Pemerintah juga menyelenggarakan pelatihan gratis agar memiliki kompetensi sesuai dengan standar. Kemudian efek dari program konversi ini mewajibkan target TKDN sehingga kedepannya akan memiliki peluang yang bagus.

Selanjutnya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga akhir 2022 telah mencapai 570 tempat yang tersebar di 238 lokasi di Indonesia (PLN, 2022). Tidak hanya SPKLU, pemerintah juga menyiapkan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). SPKLU dan SPBKLU akan terus meningkat untuk menunjang fasilitas kendaraan listrik.

Kesimpulan

Program konversi sepeda motor BBM menjadi sepeda motor listrik merupakan langkah bijak untuk diterapkan. Masa transisi pengenalan program ini senantiasa dikaji baik dari segi aturan, infrastruktur serta implementasi di lapangan. Momentum untuk mendapatkan bantuan hingga 2024 masih tersisa, sangat disayangkan jika terlewati. Kekurangan dan tantangan program ini masih dapat ditolerir mengingat hal mendesak yang saat ini muncul dipermukaan berupa polusi udara yang kian memburuk. Tentu akan menjadi peringatan untuk kota-kota lain dan mempersiapkan solusi dini terkait langkah realistis untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Anshori, L. (2023). Sudah 4.500 Orang Ajukan Izin Konversi Motor Bensin ke Listrik. Detikoto. https://oto.detik.com/motor-listrik/d-6849443/sudah-4500-orang-ajukan-izin-konversi-motor-bensin-ke-listrik. Diakses pada 30 Agustus 2023.

Asmarini, W. (2023). Bukan Arab Atau China, Ini Negara Asal Impor BBM RI Terbesar! CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20230221104404-4-415572/bukan-arab-atau-china-ini-negara-asal-impor-bbm-ri-terbesar#:~:text=Jakarta%2C CNBC Indonesia – Indonesia tercatat,sebanyak 21%2C93 juta ton. Diakses pada 29 Agustus 2023.

Budianto, Y. (2022, November 17). Peran G20 dalam Mitigasi Krisis Iklim Global. Kompas.Id. https://www.kompas.id/baca/riset/2022/11/17/peran-g20-dalam-mitigasi-krisis-iklim-global. Diakses pada 29 Agustus 2023.

Humas EBTKE. (2023). Lampaui Target, Realisasi Penurunan Emisi 2022 Capai 91,5 Juta Ton. EBTKE. https://ebtke.esdm.go.id/post/2023/01/31/3412/lampaui.target.realisasi.penurunan.emisi.2022.capai.915.juta.ton. Diakses pada 29 Agustus 2023.

PLN. (2022). Hingga Akhir 2022, 570 POM Listrik PLN Siap Melayani Masyarakat di Seluruh Indonesia. PLN. https://web.pln.co.id/media/siaran-pers/2022/12/hingga-akhir-2022-570-pom-listrik-pln-siap-melayani-masyarakat-di-seluruh-indonesia. Diakses pada 31 Agustus 2023.

 The Purnomo Yusgiantoro Center. (2023). Energy Drink by PYC #29 Program Konversi Motor BBM ke Motor Listrik di Indonesia Ft. Gigih Udi Atmo. https://www.youtube.com/watch?v=YC0khTIG08Y&list=PLLZWSdH2X2wPSnCMY1eT3DjrLhwzbb8pJ&index=3. Diakses pada 29 Agustus 2023

Hasbi Dicky Baihaqi
Hasbi Dicky Baihaqi

Mahasiswa S2 Teknik Elektro ITS

Tagged: , , , ,
LATEST POSTS
FOLLOW AND SUBSCRIBE

Program Konversi Sepeda Motor Listrik: Solusi Emisi Karbon di Sektor Transportasi

oleh Hasbi Dicky Baihaqi time to read: 5 min
0